Menilik Poin-Poin Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB, dari Kenangan Penjajahan hingga Dukungan ke Palestina

  • Redaksi
  • Selasa, 23 September 2025 - 21:58 WIB
Menilik Poin-Poin Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB, dari Kenangan Penjajahan hingga Dukungan ke Palestina
Momen Presiden RI Prabowo Subianto berpidato di sidang umum PBB ke-80. (Instagram/prabowo)

PR - Presiden RI Prabowo Subianto usai menjadi pembicara dalam Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa 23 September 2025. 

Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat sejumlah isu termasuk perdamaian dunia, penderitaan Palestina, hingga kesiapan Indonesia berkontribusi dalam menjaga keamanan global.

Lantas, apa saja yang menjadi pokok-pokok pembicaraan mantan Menteri Pertahanan di panggung PBB itu? Berikut ulasannya: 

Sentil Isu Rasisme dan Sejarah Penjajahan

Prabowo mengawali pidatonya dengan menyinggung tantangan besar dunia yang masih diwarnai rasisme dan kebencian. 

Ia menuturkan pengalaman pahit bangsa Indonesia di masa kolonialisme yang diperlakukan lebih hina dari hewan.

"Selama berabad-abad, bangsa Indonesia hidup di bawah penjajahan, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih hina daripada anjing di Tanah Air kami sendiri," kata Prabowo.

Menurutnya, perjalanan bangsa Indonesia melawan penjajahan, kelaparan, penyakit, dan kemiskinan tidaklah mudah. Namun, keberadaan PBB diakui turut membantu negara-negara yang mengalami penderitaan.

"Dalam perjuangan kami merebut kemerdekaan, dalam perjuangan kami melawan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri bersama Indonesia dan memberikan bantuan yang sangat penting," lanjutnya.

Tolak Doktrin Si Kuat dan Si Lemah

Dalam forum internasional tersebut, Prabowo juga menegaskan pentingnya menolak doktrin ‘si kuat dan si lemah’ yang kerap menimbulkan ketidakadilan global.

"Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa. Yang lemah menanggung apa yang harus mereka tanggung. Kita harus menolak doktrin ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa ada untuk menolak doktrin ini," ucapnya.

Seruan untuk Palestina

Presiden RI itu juga menyoroti tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, khususnya di Gaza. Prabowo menggambarkan penderitaan rakyat Palestina akibat konflik yang berkepanjangan.

"Akankah tak ada jawaban atas jeritan mereka? Akankah kita mengajari mereka bahwa umat manusia mampu menghadapi tantangan ini?" tanya Prabowo.

Purnawirawan TNI Angkatan Darat itu pun menegaskan kembali posisi Indonesia yang mendukung solusi dua negara.

"Saya ingin kembali menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap solusi dua negara di Palestina. Kita harus memiliki Palestina yang merdeka," tutur Prabowo.

"Namun kita juga harus, kita juga harus mengakui, kita juga harus menghormati, dan kita juga harus menjamin keselamatan serta keamanan Israel," imbuhnya.

Siap Kirim Pasukan Perdamaian

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian di bawah mandat PBB, termasuk ke Gaza.

"Indonesia siap untuk mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza atau di tempat lain," papar Prabowo.

Kesiapan itu juga mencakup wilayah konflik lain, seperti Ukraina, Sudan, dan Libya. Bahkan, Indonesia menyatakan siap berkontribusi dalam bentuk bantuan finansial.

"Tidak hanya dengan putra-putri kami, kami juga bersedia memberikan kontribusi finansial untuk mendukung misi besar mencapai perdamaian oleh PBB," tambahnya.

Soroti Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim

Selain isu politik dan perdamaian, Prabowo memaparkan sejumlah pencapaian Indonesia, termasuk swasembada pangan. 

Pria yang juga menjadi Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan cadangan beras nasional telah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni 4 juta ton.

"Kita mulai mengekspor beras ke negara-negara lain yang membutuhkan, termasuk menyediakan beras untuk Palestina," ungkap Prabowo.

Dia juga menyinggung rencana pembangunan tanggul laut raksasa sepanjang 480 kilometer sebagai upaya menghadapi perubahan iklim.

"Mungkin butuh waktu 20 tahun. Tapi, kita tidak punya pilihan. Kita harus mulai sekarang," pungkas Prabowo.

Laporan : EKA



Riau Zona

BACA JUGA: