KAMPAR, PR - Di jantung Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terhampar sebuah desa bernama Tanjung Sawit. Dikenal sebagai desa perkebunan, Tanjung Sawit tidak hanya menawarkan deretan pohon sawit yang menjulang. Ia menyimpan cerita tentang masyarakat yang hidup dalam harmoni, semangat gotong royong, dan upaya tiada henti membangun desa dari pinggiran.
Desa Tanjung Sawit bukan sekadar titik koordinat di peta wilayah Tapung. Ia adalah rumah bagi lebih dari seribu jiwa yang terbagi dalam empat dusun.
Kepala Desa Tanjung Sawit Two Bagus Parito Pohan mengatakan Tanjung Sawit merupakan wilayah eks tranmigasi dengan luas desa mencapai 1.544 Hektar.
"di antara 1.544 hektar itu, 960 hektar merupakan wilayah perkebunan plasma masyarakat," ujar Two Bagus.
Adapun jumlah penduduk di Desa Tanjung Sawit berjumlah 1.350 KK, dan jumlah jiwanya 5.250 jiwa. "Sebagai sebuah desa eks transmigrasi, sebuah keharusan bagi kami untuk mampu menggali potensi-potensi yang ada di Desa Tanjung Sawit," tuturnya.
Two Bagus berharap dengan digalinya potensi tersebut, bisa meningkatkan pendapatan asli desa, dan hasilnya bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
"Alhamdulillah, tahun 2024 ini pendapatan asli desa mencapai Rp323.500.000. Ini meningkat dari tahun 2018 saat saya baru menjabat menjadi Kades, yakni Rp11.800.000 rupiah," sebut Two Bagus.
Two Bagus menjelaskan, pendapatan asli desa aini bisa dinikmati masyarakat melalui pelayanan-pelayanan kesehatan.
"Misalnya ambulans desa melayani masyarakat secara gratis. Ambulans bisa digunakan masyarakat tidak ada ketika keadaan darurat, tetapi juga mengantarkan masyarakat kontrol di rumah sakit yang ada di Pekanbaru maupun di Bangkinang. Untuk biaya yang ditimbulkan dengan penggunaan ambulan ini ditanggung oleh Pemerintah Desa melalui pendapatan asli desa," terang Two Bagus.
Selain itu, pendapatan asli desa juga digunakan untuk biaya operasional 17 mushala dan 2 masjid yang ada di Tanjung Sawit. Bantuan operasional untuk mushala sebesar 1 juta dan untuk masjid 2 juta.
Pendapatan asli desa juga digunakan untuk menambah Insentif perangkat desa, Ketua BPD beserta anggota, ketua RW dan RT, bantuan kelembagaan LPMD, PKK, karang taruna dan lembaga lainnya di Desa Tanjung Sawit.
"Kami inginnya pendapatan asli desa ini bisa dirasakan seluruh masyarakat dan kelembagaan, baik lembaga pemerintah maupun lembaga masyarakat," terangnya.
Pendapatan asli desa juga dialokasikan kepada masyarakat yang mewakafkan dirinya untuk kegiatan sosial, seperti guru ngaji, guru madrasyah, pemandi jenazah, guru sekolah minggu serta kegiatan keagamaan lainnya.
"Bantuan seni budaya seperti rabana dan hadroh juga kami alokasikan dari pendapatan asli desa," Jelasnya.
Semua itu bisa terlaksana kan melalui tata kelola desa yang baik, melalui BUMDes Bintang Flamboyan, yang saat ini memiliki 4 unit usaha.
Yakni unit usaha simpan pinjam, unit usaha pasar desa, unit usaha trasportasi yang saat ini memiliki 3 drum truk. Serta terakhir unit usaha bintang studio yang bertujuan mengelola alun-alun pusat kegiatan masyarkat seperti kuliner dan tempat bermain anak-anak.
Saat ini di Desa Tanjung Sawit juga terdapat 16 UMKM yang memiliki usaha di Alun-alun Tanjung Sawit. Mereka sebelumnya adalah keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.
"Alhamdulillah setelah berjualan di Alun-alun, secara perlahan mereka mampu meningkatkan perekonomian keluarga," ujar Two Bagus.
Selain usaha Bumdes, Tanjung Sawit juga memiliki usaha desa yang lain seperti Pamsimas Tirta Wuning, yang telah melayani 507 KK atau 507 sambungan rumah. Penyaluran air bersih ini ditopang oleh 3 tower Pamsimas.
"Capaian yang kita peroleh saat ini tidak terlepas dari kerjasama pemerintah, kelembagaan dan masyarakat. Kami juga berharap seluruh unit usaha desa, dan kegiatan sosial bisa terus berjalan di Desa Tanjung Sawit," tutupnya.***
Laporan : Eka
TAGS:



