PEKANBARU,PR – Media sosial dinilai dapat menjadi ruang strategis bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Riau untuk mendekatkan pendidikan demokrasi kepada Generasi Z.
Bukan sekadar menyampaikan informasi kepemiluan, ruang digital didorong menjadi tempat bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, menyaring informasi politik hingga membangun keterampilan berdemokrasi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Pendidikan Pemilih Guna Mengembangkan Partisipasi Politik Generasi Z di Provinsi Riau” yang digelar KPU Riau bersama Tim Peneliti Universitas Riau (Unri) di Aula Lantai 2 Kantor KPU Provinsi Riau.
Ketua Tim Peneliti Unri, Dr Hambali MSi, mengatakan karakter Generasi Z yang sangat dekat dengan media sosial membuat pendekatan pendidikan pemilih perlu menyesuaikan perkembangan tersebut.
“Media sosial merupakan ruang publik yang sangat dekat dengan Generasi Z. Tantangannya adalah bagaimana ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat menerima informasi yang viral, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar, berdiskusi, berdeliberasi, dan mengembangkan keterampilan berdemokrasi,” ujar Hambali.
Menurutnya, pendidikan pemilih tidak cukup hanya membekali generasi muda dengan pengetahuan mengenai tahapan dan proses pemilu. Mereka juga perlu memiliki kesadaran kritis, keterampilan serta pengalaman untuk terlibat dalam kehidupan demokrasi.
Karena itu, Generasi Z diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi politik yang beredar di media sosial. Mereka perlu didorong menjadi subjek yang mampu memahami, mengkritisi, sekaligus berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Anggota KPU Provinsi Riau sekaligus Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi, Hubungan Masyarakat dan SDM, Nugroho Noto Susanto, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi penyelenggara pemilu.
KPU, kata dia, perlu menghadirkan pendidikan pemilih yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan generasi muda. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada kehadiran pemilih di tempat pemungutan suara, tetapi juga membangun pemahaman demokrasi secara lebih luas.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar pemilih yang datang ke TPS, tetapi generasi muda yang memahami demokrasi, kritis terhadap informasi politik, mampu menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mau terlibat dalam kehidupan demokrasi secara berkelanjutan,” ujar Nugroho.
FGD tersebut diikuti Anggota KPU Riau Nugroho Noto Susanto, Nahrawi dan Supriyanto, pejabat struktural serta staf Sekretariat KPU Riau yang membidangi sosialisasi, pendidikan pemilih, partisipasi dan hubungan masyarakat.
Tim Peneliti Unri yang hadir terdiri dari Dr Hambali MSi, Dr Hariyanti MPd, dan Hamdi Abdullah Hasibuan MPd. Sejumlah mahasiswa magang dari berbagai perguruan tinggi di Pekanbaru juga turut dilibatkan dalam diskusi sebagai representasi Generasi Z.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari upaya menggali perspektif langsung generasi muda mengenai pola pendidikan pemilih yang lebih relevan dengan kehidupan mereka.
Melalui kolaborasi KPU Riau dan Unri, pendidikan pemilih ke depan diharapkan tidak hanya hadir melalui sosialisasi konvensional. Pemanfaatan ruang digital menjadi salah satu peluang untuk membangun generasi muda yang lebih kritis terhadap informasi politik sekaligus aktif dalam kehidupan demokrasi.***
TAGS:



