Dentuman Meriam Buluh di Siak

  • Eka
  • Minggu, 15 Maret 2026 - 09:38 WIB
Dentuman Meriam Buluh di Siak

SIAK, PR – Dentuman meriam buluh kembali menggema di Kota Siak Sri Indrapura pada malam Ramadan. Tradisi khas masyarakat Melayu itu menjadi daya tarik tersendiri dalam menyemarakkan suasana bulan suci, sekaligus menandai dimulainya Lomba Letup Meriam Buluh 2026.
 
Kegiatan yang digelar Dewan Kesenian Siak (DKS) tersebut berlangsung di kawasan Pasar Seni Siak, Sabtu malam (15/3/2026). Puluhan peserta ambil bagian dalam lomba yang telah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Siak tersebut.
 
Tradisi meriam buluh sendiri telah lama dikenal di tengah masyarakat Melayu Siak. Biasanya, dentuman meriam dari batang buluh ini akan terdengar sepanjang malam Ramadan hingga menjelang perayaan Idulfitri.
 
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, saat membuka kegiatan tersebut mengapresiasi masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya daerah.
 
“Alhamdulillah setelah salat tarawih kita bisa melaksanakan kegiatan ini. Tradisi meriam buluh ini luar biasa karena hampir ada di setiap kecamatan di Kabupaten Siak,” ujarnya.
 
Menurutnya, tradisi seperti meriam buluh merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Siak yang harus dijaga keberlangsungannya.
 
“Hal-hal baik seperti ini harus terus kita jaga sebagai bukti bahwa Siak memiliki kebudayaan yang kuat,” tambah Syamsurizal.
 
Ia juga mendorong agar berbagai tradisi daerah, termasuk meriam buluh dan lampu colok, terus dikembangkan serta didokumentasikan agar tidak hilang ditelan zaman.
 
“Jangan sampai kebudayaan kita hanya disampaikan dari mulut ke mulut lalu hilang. Harus kita tuliskan dan publikasikan agar anak cucu kita punya dasar untuk melanjutkan kegiatan positif, terutama di bidang kebudayaan,” pesannya.
 
Sementara itu, Ketua Pelaksana dari Dewan Kesenian Siak, Tengku Zulkarnain, mengatakan Lomba Letup Meriam Buluh tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga dan diikuti oleh 56 peserta.
 
“Alhamdulillah meskipun cuaca agak gerimis, lomba letup meriam buluh dan semarak lampu colok tetap dapat dilaksanakan. Kami juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah serta beberapa pihak sponsor,” kata pria yang akrab disapa Wak Jul itu.
 
Ia menjelaskan lomba digelar selama dua hari, yakni 14 hingga 15 Maret 2026. Hari pertama digunakan untuk babak penyisihan, sementara hari kedua dilanjutkan dengan semifinal dan final hingga menyisakan 10 peserta terbaik.
 
Dalam penilaian lomba, dewan juri menitikberatkan pada keaslian bahan meriam serta kualitas suara letupan yang dihasilkan.
 
“Meriam yang digunakan harus dari buluh alami tanpa menggunakan karbit. Setiap peserta diberikan tiga kali kesempatan letupan dan yang dinilai adalah kekuatan serta tinggi suara yang dihasilkan,” jelas juri lomba dari DKS, Susanto.
 
Para pemenang lomba akan memperoleh uang pembinaan dan trofi. Hadiah tersebut didukung oleh sejumlah pihak, termasuk PT Riau Petroleum, sementara kegiatan semarak lampu colok tahun ini juga direncanakan mendapat dukungan dari PT Bumi Siak Pusako (BSP).***



Riau Zona

BACA JUGA: